GoBrand.id - Kebijakan bea masuk sementara sebesar 104,38 persen terhadap produk sel dan panel surya asal Indonesia oleh Amerika Serikat memicu kritik keras dari Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI, Rivqy Abdul Halim, mendesak pemerintah bersikap tegas dan tidak tunduk pada tekanan dagang yang dinilai merugikan industri nasional.
Menurut Rivqy, pengenaan countervailing duties bukan sekadar persoalan tarif, tetapi menyangkut posisi tawar Indonesia dalam perdagangan global. Ia menilai respons pemerintah harus melampaui diplomasi formal dan segera diikuti langkah konkret untuk mengurangi ketergantungan pada satu pasar ekspor.
“Diversifikasi tujuan ekspor harus dipercepat. Jangan sampai Indonesia terlihat mudah ditekan dalam perdagangan internasional,” ujarnya di Jakarta, Jumat (27/2/2026).
Rivqy menilai kebijakan tarif tinggi tersebut berpotensi menekan daya saing produk energi terbarukan Indonesia di pasar internasional, sekaligus mempersempit ruang pertumbuhan industri dalam negeri. Ia meminta pemerintah membuka akses pasar baru di Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa sebagai strategi mitigasi jangka menengah.
Sebelumnya, Kementerian Perdagangan Amerika Serikat menetapkan bea masuk sementara terhadap impor sel dan panel surya dari Indonesia, India, dan Laos. Kebijakan itu disebut sebagai respons atas dugaan subsidi pemerintah pada industri surya di negara-negara tersebut. Mengutip laporan Reuters, tingkat tarif ditetapkan 125,87 persen untuk India, 104,38 persen untuk Indonesia, dan 80,67 persen untuk Laos.
Komisi VI menilai langkah sepihak tersebut menunjukkan meningkatnya proteksionisme perdagangan global yang berpotensi merugikan negara berkembang. DPR meminta pemerintah memastikan perlindungan terhadap industri strategis nasional, khususnya sektor energi baru terbarukan, agar tidak tersandera kebijakan dagang negara lain.
Rivqy menegaskan, sikap tegas diperlukan untuk menjaga kedaulatan ekonomi Indonesia. “Perdagangan internasional harus berlangsung setara. Pemerintah perlu menunjukkan bahwa Indonesia bukan pasar yang mudah ditekan,” katanya.
Editor : Redaksi