Manava Hadirkan Greenpreneur Academy, Bangun Sirkular Ekonomi Berbasis Komunitas

Reporter : Redaksi

GoBrand.id -  Di tengah meningkatnya krisis sampah di Indonesia, Manava Foundation menghadirkan Greenpreneur Academy, program inkubasi berbasis circular economy yang membantu komunitas waste management berkembang menjadi usaha yang market-ready dan berkelanjutan.

Program ini hadir menjawab tantangan pengelolaan sampah nasional yang kini mencapai lebih dari 68 juta ton per tahun, sementara tingkat daur ulang Indonesia masih berada di bawah 10 persen. Berbagai studi juga menunjukkan sebagian besar sampah di Indonesia masih berakhir di TPA, dibakar, atau mencemari lingkungan akibat minimnya sistem pengelolaan yang efektif.

Dua puluh tahun setelah tragedi Leuwigajah menjadi pengingat nasional tentang krisis sampah, Indonesia masih menghadapi tantangan besar: jutaan ton sampah belum terkelola optimal, sementara tingkat daur ulang masih rendah. Di saat yang sama, pertumbuhan industri waste management dan circular economy di Indonesia terus meningkat seiring dorongan terhadap ekonomi hijau dan sustainability.

Melihat kondisi tersebut, Manava percaya bahwa pengelolaan sampah tidak cukup berhenti pada edukasi lingkungan semata, tetapi perlu terhubung dengan penguatan ekonomi komunitas dan akses pasar yang nyata.

Berbeda dari program pengelolaan sampah konvensional, Greenpreneur Academy dirancang untuk membangun ekosistem yang menghubungkan pengolahan sampah, pengembangan usaha, akses pasar, hingga peluang ekonomi masyarakat dalam satu sistem yang terintegrasi.

Program ini menghadirkan berbagai pelatihan mulai dari circular economy fundamentals, costing & financial management, sales & marketing, hingga scalability for impact dan sustainable business development.

Sebanyak 20 komunitas yang sudah terpilih dapat mengikuti program inkubasi intensif selama empat bulan yang mencakup pelatihan bisnis, pendampingan operasional, monitoring lapangan, hingga strategic seed funding bagi komunitas terbaik.

“Sebelum ikut greenpreneur, manajemen keuangan saya kurang bagus untuk usaha, sisi disiplin saya juga belum ada, dan setelah saya ikut greenpreneur saya merasa ini suatu perubahan, karena dari tindakan kecil yang dilakukan ini bisa membuat perubahan yang besar dari sisi keuangan, kedisiplinan, akses, lapangan pekerjaan, dan lainnya,” ujar Kang Ari salah satu peserta greenpreneur.

Namun yang membedakan Greenpreneur Academy bukan hanya pada pelatihannya, melainkan bagaimana program ini membangun jalur nyata dari komunitas menuju pasar, sejalan dengan misi yang diangkat Manava.

Sebagai bagian dari ekosistem program, Manava juga berkolaborasi dengan para pelaku pengelola sampah menghadirkan Jaga Bumi Eco Mart & Community Hub di Ciwalk Bandung sebagai ruang retail dan akses pasar bagi produk-produk hasil komunitas binaan, mulai dari produk daur ulang, kerajinan berbasis limbah, hingga produk ramah lingkungan.

Produk hasil pengolahan sampah tidak berhenti sebagai output program, tetapi masuk ke rantai ekonomi yang nyata dan menjangkau konsumen secara langsung. Selain mendorong pengurangan waste leakage dan emisi karbon, Greenpreneur Academy juga dirancang untuk membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui usaha berbasis circular economy.

Berdasarkan estimasi Social Return on Investment (SROI), setiap Rp1 investasi program diproyeksikan menghasilkan lebih dari Rp3 nilai sosial bagi masyarakat dan lingkungan.

“Kami percaya sustainability akan menjadi lebih kuat ketika terhubung dengan peluang ekonomi yang nyata. Melalui Greenpreneur Academy, kami ingin membangun circular economy yang tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga membuka akses usaha, pasar, dan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif bagi masyarakat.” Ujar Edo Irfandi, Direktur Bisnis Manava Collective.

Ke depan, Manava Foundation menargetkan Greenpreneur Academy dapat diperluas ke lebih banyak kota dan menjadi model kolaborasi untuk membangun ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Editor : Redaksi

OtoTekno
Berita Populer
Berita Terbaru