Jakarta - Banyak hubungan jangka panjang berjalan tenang dan stabil, namun diam-diam menghadapi kejenuhan yang jarang dibicarakan secara terbuka. Rutinitas harian, tekanan pekerjaan, dan minimnya ruang komunikasi kerap membuat kedekatan emosional dan keintiman pasangan perlahan memudar.
Fenomena ini dikenal sebagai relationship habituation—kondisi ketika pasangan sudah merasa aman satu sama lain, tetapi kehilangan rasa ingin tahu dan kebaruan dalam hubungan. Sejumlah studi sosiologis di Indonesia mencatat, perubahan frekuensi dan kualitas keintiman sering berkaitan dengan komunikasi yang makin jarang dibangun secara jujur dan santai.
Di tengah kondisi tersebut, keintiman tidak lagi dipahami semata sebagai urusan fisik, melainkan sebagai ruang dialog yang membutuhkan keterbukaan dan kesediaan untuk saling mendengarkan.
Pasangan kerap terjebak dalam anggapan bahwa kedekatan akan terjaga dengan sendirinya, padahal tanpa upaya sadar, hubungan bisa berubah menjadi sekadar rutinitas.
Head of Marketing DKT Indonesia, Cut Vellayati, menilai perubahan dalam dinamika hubungan adalah hal yang wajar.
“Hubungan pasti berubah seiring waktu, dan itu normal. Tantangannya adalah bagaimana pasangan tetap mau saling menemukan kembali dengan cara yang nyaman, konsensual, dan saling membahagiakan,” ujarnya, Senin (2/2/2026).
Pendekatan ini dinilai relevan di tengah masih kuatnya stigma pembicaraan soal keintiman di masyarakat. Banyak pasangan memilih diam karena takut canggung atau disalahpahami, padahal keterbukaan justru menjadi kunci menjaga kedekatan emosional.
Pada akhirnya, persoalan keintiman bukan sekadar isu privat, melainkan cerminan kualitas komunikasi dan kesehatan relasi. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan menekan, menjaga hubungan tetap hidup membutuhkan kesadaran, dialog, dan keberanian untuk terus saling mengenal kembali.
Editor : Redaksi