GOBRAND.ID - Upaya meningkatkan kesadaran gizi anak kembali digaungkan PT Sarihusada Generasi Mahardhika melalui kampanye “Pejuang Berat Badan Anak” yang diluncurkan bertepatan dengan momentum Hari Gizi Nasional 2026. Program ini menargetkan peningkatan pemahaman orang tua mengenai pentingnya pemantauan berat badan anak sebagai indikator utama tumbuh kembang.
Kampanye tersebut menjadi kelanjutan gerakan Generasi Maju Bebas Stunting (GMBS) yang sebelumnya digagas perusahaan. Pada 2025, program ini bahkan mencatat dua rekor dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) melalui skrining stunting daring terhadap 1.155.524 peserta serta penyuluhan dan skrining luring kepada lebih dari 10 ribu peserta.
Di tengah berbagai upaya tersebut, tantangan gizi anak di Indonesia masih belum sepenuhnya teratasi. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan prevalensi anak dengan berat badan kurang masih berada di angka 16,8 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini dinilai berisiko memperbesar peluang terjadinya stunting jika tidak ditangani sejak dini.
Dokter spesialis anak Ian Suryadi Suteja, Jumat (6/3/2026) menegaskan bahwa berat badan dan tinggi badan merupakan indikator penting dalam menilai status gizi anak. Ia mengingatkan orang tua untuk rutin memantau pertumbuhan anak dan memastikan asupan nutrisi yang seimbang, terutama protein hewani dan kalori yang cukup.
Sementara itu, CEO PT Sarihusada Generasi Mahardhika, Joris Bernard, menyatakan kampanye ini bertujuan memperluas edukasi kepada keluarga Indonesia agar lebih peka terhadap gejala berat badan anak yang sulit naik.
“Komitmen kami adalah mendukung tumbuh kembang optimal anak Indonesia. Melalui kampanye ini, kami ingin mendorong deteksi dini sekaligus membantu orang tua memahami langkah yang tepat untuk menjaga status gizi anak,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari aktris Cut Meyriska, yang menilai banyak orang tua menghadapi kekhawatiran serupa ketika berat badan anak sulit naik. Ia menekankan pentingnya tetap tenang, rutin memantau pertumbuhan, dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Meski kampanye edukasi terus digencarkan, para pengamat menilai tantangan gizi anak di Indonesia tidak bisa hanya diselesaikan melalui program sosialisasi. Faktor akses pangan bergizi, pola asuh, hingga ketimpangan ekonomi masih menjadi pekerjaan rumah besar dalam upaya menekan angka stunting dan masalah gizi nasional.
Editor : Redaksi