MATARAM, GoBrand.id - Upaya mendorong inklusi keuangan di Indonesia Timur terus diperkuat melalui pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya perempuan dan penyandang disabilitas. Kelompok ini selama ini masih menghadapi tantangan besar dalam mengakses pembiayaan formal, mulai dari keterbatasan literasi keuangan hingga minimnya jaminan usaha.
Menjawab tantangan tersebut, PT Bank CIMB Niaga Tbk kembali melanjutkan program Community Link #JadiBerkelanjutan yang kini memasuki musim ke-4. Program ini tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga pendampingan intensif hingga membuka akses permodalan bagi UMKM yang dinilai siap berkembang.
Kegiatan terbaru digelar di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang menjadi penutup rangkaian pelatihan sekaligus momen kelulusan (graduation) peserta program. Para pelaku UMKM yang telah melalui proses pembinaan mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan usaha melalui dukungan pembiayaan tanpa bunga maupun bantuan nonfinansial.
Direktur Compliance, Corporate Affairs & Legal CIMB Niaga, Fransiska Oei, menegaskan bahwa program ini dirancang untuk menciptakan dampak jangka panjang, tidak hanya bagi pelaku usaha, tetapi juga bagi ekosistem ekonomi daerah. “Melalui pelatihan, pendampingan, dan akses pembiayaan, kami ingin memastikan UMKM memiliki fondasi yang kuat untuk tumbuh secara berkelanjutan. Termasuk di dalamnya perempuan dan teman disabilitas yang memiliki potensi besar namun kerap terkendala akses,” ujar Fransiska, Selasa (29/6/2026).
Ia menambahkan, penguatan kapasitas menjadi kunci agar pelaku UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu meningkatkan skala usaha, memperluas pasar, dan menciptakan lapangan kerja baru di lingkungannya.
Sejak diluncurkan pada 2022, program ini telah menjangkau berbagai wilayah Indonesia Timur, seperti Makassar, Toraja, Manado, Samarinda, Balikpapan, hingga Kupang. Secara kumulatif, sebanyak 979 pelaku UMKM telah mendapatkan pelatihan, sementara sekitar 150 UMKM memperoleh akses permodalan sebagai bentuk dukungan konkret.
Pada musim ke-4 yang dimulai sejak 2025, jangkauan program diperluas ke wilayah baru seperti Banjarmasin, Pontianak, Kendari, dan Lombok. Dari total 284 peserta yang mengikuti pelatihan, sebanyak 57 UMKM terpilih mendapatkan pendampingan lanjutan, termasuk 12 pelaku usaha dari Lombok.
Pemilihan Lombok sebagai lokasi prioritas bukan tanpa alasan. Wilayah ini dinilai memiliki potensi sumber daya alam yang besar serta peluang pengembangan UMKM berbasis ekonomi berkelanjutan, mulai dari produk kerajinan hingga sektor kuliner dan pariwisata.
Selain pelatihan dan pembiayaan, rangkaian kegiatan juga diisi dengan pameran produk dan forum diskusi yang mempertemukan pelaku UMKM dengan berbagai pemangku kepentingan. Momentum ini dimanfaatkan untuk memperluas jejaring bisnis serta membuka akses pasar yang lebih luas.
Program ini juga sejalan dengan upaya mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi. Inisiatif ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara sektor perbankan, mitra pelaksana, dan pemerintah dapat menjadi solusi nyata dalam mengatasi kesenjangan akses ekonomi.
Ke depan, penguatan sinergi lintas sektor dinilai menjadi kunci agar semakin banyak UMKM, terutama dari kelompok rentan, dapat naik kelas dan berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional. Dengan pendekatan yang inklusif dan berkelanjutan, UMKM di Indonesia Timur diharapkan mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih merata.
Editor : Redaksi