JAKARTA, GoBrand.id -Sejarah Candi Borobudur kini dikemas dalam pengalaman digital yang lebih interaktif. Galeri Indonesia Kaya menghadirkan “Purwacarita Borobudur: Jelajah Sejarah dalam Ruang dan Rasa”, yang memadukan teknologi kecerdasan buatan (AI), visual digital, teater, hingga sensor gerak.
Melalui karya imersif tersebut, pengunjung tidak hanya melihat representasi Borobudur, tetapi diajak menelusuri kisah pembangunan candi, tokoh-tokoh yang berkaitan dengan sejarahnya, serta pesan moral yang terdapat dalam relief.
Program Director Galeri Indonesia Kaya, Renitasari Adrian, mengatakan pendekatan digital menjadi salah satu cara untuk membuat sejarah lebih dekat dengan masyarakat, khususnya generasi muda.
“Sebagai ruang publik edutainment yang memadukan edukasi, teknologi digital, dan inovasi, Galeri Indonesia Kaya berkomitmen memperkenalkan dan melestarikan kekayaan budaya Indonesia dengan cara menyenangkan,” kata Renitasari saat jumpa pers di Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Purwacarita Borobudur dikembangkan Galeri Indonesia Kaya bersama Bening Digital Indonesia dan Curaweda. Narasi yang digunakan mengacu pada riset serta sumber sejarah yang telah melalui proses kurasi dan validasi akademik.
Sejumlah sumber yang menjadi rujukan antara lain Prasasti Karangtengah dan Prasasti Tri Tepusan. Proses kurasi juga melibatkan Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada serta Museum dan Cagar Budaya.
Founder dan CEO Curaweda, Azhar Muhammad Fuad, menegaskan AI dalam karya tersebut bukan digunakan sebagai sumber fakta sejarah, melainkan sebagai alat untuk menerjemahkan data sejarah menjadi visual dan pengalaman interaktif.
“Bagi kami di Curaweda, teknologi bukanlah tujuan akhir. AI kami perlakukan sebagai kuas, sementara kanvasnya tetap fakta sejarah yang telah divalidasi para ahli,” ujar Azhar.
Pengalaman pengunjung dibagi dalam delapan fitur, di antaranya Sapa Borobudur, Karmawibhangga dan Avadana, serta Batu Carita yang menghadirkan tokoh Samaratungga, Pramodhawardhani, Sudhana, dan Manohara.
Teknologi sensor gerak juga memungkinkan elemen flora dan fauna seperti burung merak, rusa Jawa, dan gajah merespons pergerakan pengunjung. Sementara permainan interaktif mengajak pengunjung mengikuti rute sakral peziarah dari Candi Mendut dan Candi Pawon menuju Stupa Induk Borobudur.
Kurator Departemen Sejarah FIB UGM, Sri Margana, mengingatkan penggunaan teknologi dalam penyampaian sejarah tetap harus berpegang pada disiplin dan fakta sejarah.
“Teknologi digital memiliki potensi besar untuk mendekatkan sejarah pada publik, selama teknologi mengikuti disiplin sejarah, bukan sejarah yang mengikuti tuntutan teknologi,” katanya.
Purwacarita Borobudur mulai dibuka untuk masyarakat secara gratis di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, sejak 1 September hingga Desember 2026. Kehadiran karya ini menjadi salah satu upaya menghadirkan sejarah dalam format yang lebih visual, interaktif, dan relevan bagi generasi masa kini.
Editor : Redaksi