GOBRAND.ID - Ancaman kejahatan digital yang kian masif di tanah air memicu sektor perbankan dan asuransi untuk memperketat benteng pertahanan bagi nasabah.
Merespons kerugian finansial akibat penipuan daring yang mencapai ratusan miliar rupiah, PT Bank DBS Indonesia dan PT Chubb General Insurance Indonesia (Chubb Indonesia) resmi memperkenalkan Cyber Guard.
Produk asuransi siber komprehensif ini dirancang sebagai bantalan ekonomi bagi masyarakat yang rentan terpapar phishing, pencurian identitas, hingga skema rekayasa sosial (social engineering).
Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital, terdapat 1,2 juta laporan penipuan digital dengan total kerugian menyentuh Rp476 miliar sepanjang periode November 2024 hingga Januari 2025.
Direktur Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Melfrida Gultom, menyatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya bank untuk menjaga aset yang telah dibangun nasabah.
"Sebagai mitra finansial, peran kami tidak hanya membantu nasabah mengembangkan aset, tetapi juga memastikan aset tersebut terlindungi. Peluncuran Cyber Guard bersama Chubb melengkapi pendekatan holistik kami agar nasabah bisa bertransaksi digital dengan rasa aman," ujar Melfrida.
Cyber Guard menawarkan cakupan proteksi yang spesifik, antara lain:
1. Transaksi Tidak Sah: Menanggung kerugian pada kartu kredit atau debit akibat kehilangan perangkat elektronik dalam kurun 72 jam pertama.
2. Pengambilalihan Akun: Perlindungan terhadap akses ilegal yang dipicu oleh serangan spyware atau malware.
3. Rekayasa Sosial: Menjamin kerugian saat nasabah tertipu untuk mengirimkan dana ke pihak ketiga yang menyamar sebagai entitas terpercaya.
Fleksibilitas menjadi nilai jual utama produk ini. Nasabah dapat memilih premi mulai dari Rp60.000 untuk limit perlindungan Rp10 juta, atau Rp150.000 untuk plafon klaim hingga Rp50 juta per bulan.
Periode perlindungan pun tersedia dalam skema bulanan maupun tahunan melalui jaringan telemarketing Bank DBS.
Presiden Direktur Chubb Indonesia, Stephen Crouch, menilai adopsi digital yang pesat harus dibarengi dengan solusi mitigasi risiko yang mudah diakses.
"Risiko siber kini menjadi perhatian utama masyarakat. Lewat kolaborasi ini, kami ingin membantu nasabah menjelajahi dunia digital dengan rasa percaya diri yang lebih tinggi," tuturnya.
Langkah ini mempertegas tren industri keuangan yang kini lebih proaktif memitigasi risiko siber di level individu, mengingat metode kejahatan digital yang semakin canggih dan sulit dideteksi hanya dengan sistem keamanan internal bank konvensional.
Editor : Redaksi